Tari Serampang XII Merangkai Kisah Cinta Melayu

Warisan tari Melayu dari Serdang Bedagai menghadirkan Tari Serampang XII, sebuah pertunjukan yang merajut gerak lincah dan kisah percintaan. Tarian ini memadukan khazanah Melayu Deli melalui 12 ragam gerak, yang menuturkan perjalanan asmara sepasang muda-mudi. Setiap lenggok menyimpan simbolisme pertemuan, isyarat kasih, keraguan, hingga ikatan perkawinan yang dirayakan bersama keluarga. Di balik ritmenya yang dinamis, karya Guru Sauti menyimpan warisan estetika pesisir sekaligus kisah sosial masyarakat Melayu.

Penciptanya, Guru Sauti, lahir pada 1903 di Pantai Cermin, Sumatra Timur; orang tuanya bernama Tateh dan Asmah. Ia menamatkan pendidikan perguruan di Pematang Siantar pada 1921 sebelum mengajar sekolah dasar di Sunggal. Guru Sauti memimpin sekolah di Simpang Tiga, mengabdi pada Jawatan Kebudayaan, lalu wafat pada Mei 1963 dalam usia 60 tahun.

Tari Serampang XII dan Kisah Asmara

Semula bernama Tari Pulau Sari, tarian ini mengambil sebutan dari lagu pengiring yang menghidupkan langkah-langkah penarinya. Nama itu kemudian dinilai kurang selaras dengan tempo tarian yang cepat, berbeda dari sejumlah tarian berawalan kata “Pulau”. Perubahan nama itu disebut berlangsung antara 1950 dan 1960, sementara tempo cepat tarian menjadi penanda identitasnya. Pada masa awal, penari laki-laki membawakan tarian ini; perkembangan berikutnya membuka ruang bagi perempuan untuk tampil berpasangan.

Gerak yang Merangkai Kasih

Rangkaian geraknya menyusun narasi bertahap, dari kegugupan saat pertemuan pertama hingga keyakinan membangun rumah tangga. Alih-alih sekadar hiasan panggung, putaran, lompatan kecil, langkah seirama, dan lirikan mata berfungsi sebagai bahasa perasaan. Perubahan ekspresi dan tempo menuntun penonton memahami proses saling mengenal, mengungkap cinta, hingga memperoleh restu keluarga.

Dua Belas Gerakan dan Makna

Keutuhan cerita bergantung pada 12 ragam gerak yang saling menyambung, bukan sekadar rangkaian koreografi yang mengandalkan keindahan visual. Bagian permulaan menggambarkan kecanggungan, sementara gerak berjalan dan pusing mengisahkan cinta yang tumbuh bersama kegundahan. Gerak gila, sipat, serta goncat-goncet menerjemahkan mabuk asmara dan isyarat balasan melalui lenggok, pandangan, serta keserasian langkah. Setelah saling memahami, pasangan menguatkan keputusan, mengenalkan diri kepada keluarga, menunggu restu, lalu melangkah menuju pernikahan.

  • Gerak tari permulaan — canggung
  • Gerak tari berjalan — cinta tumbuh
  • Gerak tari pusing
  • Gerak tari gila — mabuk asmara
  • Gerak tari sipat — isyarat
  • Gerak tari goncat-goncet — balasan cinta
  • Gerak tari sebelah kaki — keraguan
  • Gerak tari langkah tiga — tekad
  • Gerak tari melonjak — restu
  • Gerak tari datang-mendatangi — pinangan
  • Gerak tari rupa — pelaminan
  • Gerak tari sapu tangan — ikatan

Penutup Tari Serampang XII

Gerak Tari Serampang menyentuh babak penentuan ketika pemuda dan gadis menanti restu orang tua sebelum pinangan berlangsung. Gerak datang-mendatangi melukiskan lamaran, sedangkan gerak rupa membawa pasangan menuju pelaminan dalam suasana penuh sukacita. Pada penutup, sapu tangan berwarna cerah disilangkan sebagai lambang dua hati yang terikat dan tak terpisahkan.

Busana Melayu Pesisir

Busana penari menegaskan identitas Melayu pesisir melalui paduan potongan sederhana, kain tradisional, dan warna yang mencolok. Penari pria mengenakan kemeja, celana panjang, peci, serta kain pinggang menjuntai hingga lutut, menciptakan siluet khas. Penari perempuan mengenakan kemeja lengan panjang dan kain hingga mata kaki dengan warna merah, biru muda, atau merah muda.

Warisan Budaya yang Hidup

Selain menjadi hiburan, Tari Serampang XII menyimpan catatan tentang tata pergaulan dan nilai keluarga dalam masyarakat Melayu pesisir. Tarian ini mengolah kisah cinta sebagai perjalanan beretika, ketika keberanian menyatakan perasaan berjalan bersama penghormatan terhadap orang tua. Peralihan dari pertemuan awal hingga pelaminan memberi penonton alur yang mudah dikenali, sekaligus memperlihatkan kecermatan simbol gerak. Warisan tersebut terus hidup ketika sanggar, sekolah, dan komunitas budaya mengajarkan koreografi sambil menanamkan penghargaan terhadap akar tradisi.

Melalui perpaduan gerak cepat dan simbolisme lembut, Tari Serampang mempertemukan keindahan panggung dengan pesan tentang kesetiaan. Karya Guru Sauti bukan hanya merekam romansa muda-mudi, melainkan juga menjaga ingatan kolektif tentang adat Melayu di Serdang Bedagai. Setiap pementasan menghadirkan kembali warisan itu, mengajak generasi baru merawat makna gerak, busana, serta nilai yang diwariskan.

Leave a Comment