Gordang Sambilan merupakan kesenian musik tradisional suku Mandailing yang menyimpan jejak sejarah, penghormatan adat, dan identitas kolektif masyarakatnya. Nama tersebut menggabungkan kata gordang, berarti gendang atau beduk, dengan sambilan yang bermakna sembilan dalam bahasa Mandailing. Sembilan instrumen dengan ukuran berbeda menghasilkan warna bunyi beragam, menghadirkan irama yang kuat sekaligus berlapis. Bagi masyarakat Mandailing, tabuhan ini bukan sekadar hiburan, melainkan warisan yang merangkum hubungan antara adat, sejarah, dan kebersamaan.
Pada masa lalu, masyarakat menggunakan Gordang Sambilan dalam kegiatan sakral, termasuk ritual yang berkaitan dengan kepercayaan leluhur. Seiring perubahan kehidupan sosial, fungsinya meluas menuju pernikahan, penyambutan tamu, perayaan, dan berbagai acara kebudayaan. Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi, meski tetap membawa jejak nilai dan tata penghormatan komunitas.
Gordang Sambilan dan Susunan Sembilan Gendang
Perangkat ini terdiri atas sembilan gendang dengan panjang dan diameter berlainan sehingga setiap instrumen menghasilkan nada tersendiri. Enam pemain biasanya mengolah tabuhan, membangun pola ritmis yang saling mengisi dari suara paling kecil hingga terbesar. Nama instrumen mencakup taba-taba, tepe-tepe, kudong-kudong, kudong-kudong nabalik, pasilion, serta tiga gendang jangat yang melengkapi susunan ansambel tradisional ini. Perbedaan ukuran mengatur rentang bunyi, sedangkan keterampilan pemain menjaga ketukan tetap padu sepanjang pertunjukan berlangsung.
Ragam Nama dan Karakter Bunyi
Penamaan dan penempatan tiap gendang bisa memiliki variasi menurut wilayah, sebab tradisi Mandailing memberi ruang bagi perbedaan lokal. Namun, susunan sembilan instrumen tetap menjadi ciri utama yang segera menandai identitas bunyi bagi pendengar dan masyarakat setempat. Ketika seluruh gendang berpadu, perbedaan nada membentuk denyut musikal yang tegas, bertingkat, dan mengikat suasana acara.
Bahan Pembuatan dan Perbandingan Instrumen
Para perajin membentuk badan gendang dari kayu, lalu mengosongkan bagian tengahnya untuk menciptakan ruang resonansi suara. Para perajin merentangkan kulit sapi menutup salah satu ujung tabung, kemudian mengikatnya kuat memakai tali rotan. Ketegangan kulit membantu menghasilkan respons bunyi ketika pemain memukul permukaannya dengan pemukul kayu secara berirama. Sebagai pembanding, pemain menabuh Gondang Tunggu-tunggu 2, berupa dua gendang lebih kecil, langsung menggunakan tangan tanpa memakai pemukul kayu.
Gordang Sambilan dalam Jejak Sejarah
Cerita lisan mengaitkan asal-usul Gordang Sambilan dengan Kerajaan Nasution, tetapi sumber tertulis menyajikan penanggalan kemunculan yang berbeda. Karena itu, pembaca perlu menimbang kisah tersebut sebagai tradisi yang diwariskan lewat ingatan, catatan, dan penuturan masyarakat. Salah satu penjelasan menghubungkan angka sembilan dengan para pemain, sedangkan versi lain mengaitkannya dengan sembilan raja Mandailing.
Dari Ritual Leluhur ke Kehidupan Adat
Sebelum Islam menyebar di Mandailing, Gordang Sambilan mengiringi Paturuan Sibaso, ritual untuk memanggil roh leluhur menurut kepercayaan setempat. Masyarakat juga menabuhnya dalam Mangido Udan, upacara adat yang bertujuan memohon hujan atau menghentikan curah hujan berkepanjangan. Ritual tersebut memperlihatkan eratnya hubungan musik, alam, dan spiritualitas dalam cara masyarakat memahami keseimbangan kehidupan.
Fungsi Adat dan Perluasan Pertunjukan
Keluarga Mandailing menabuhnya dalam adat pernikahan Orja Godang Markaroan Boru serta upacara kematian Orja Mambulungi. Penggunaan untuk upacara pribadi mensyaratkan izin melalui musyawarah adat bersama Namora Natoras dan Raja sebagai pemimpin setempat. Tradisi juga menetapkan kewajiban menyembelih seekor kerbau dewasa sebelum keluarga menampilkan ansambel dalam upacara tertentu, sesuai ketentuan adat. Kini, masyarakat juga menghadirkan Gordang Sambilan dalam penyambutan tamu, perayaan, dan panggung budaya, termasuk di Istana Presiden.
Pergeseran fungsi tidak menghapus akar sakralnya, melainkan membuka ruang baru bagi masyarakat untuk mengenali warisan leluhur. Melalui pertunjukan dan pewarisan keterampilan, generasi muda dapat mempelajari pola tabuhan sekaligus memahami tanggung jawab menjaga adat. Gordang Sambilan pun terus berbicara sebagai bunyi identitas Mandailing, menyatukan memori sejarah, ekspresi seni, dan kehidupan masyarakat masa kini.