Pariaman menyimpan warisan budaya yang hidup melalui Upacara Tabuik, sebuah perayaan yang memadukan ingatan sejarah, ekspresi religius, dan kesenian masyarakat. Tradisi tahunan di Sumatera Barat ini menghadirkan arak-arakan keranda berhias, sekaligus mengajak warga mengenang tragedi Karbala. Di balik kemeriahan prosesi, tersimpan kisah tentang Husein bin Ali serta perjalanan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, Upacara Tabuik tidak hanya tampil sebagai pesta rakyat, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan sejarah, simbol, dan identitas Pariaman.
Keunikan tradisi tersebut dapat ditelusuri melalui asal-usul namanya, rangkaian ritual, serta perubahan pemaknaan dalam kehidupan masyarakat setempat. Catatan penelitian sejarah dan budaya serta kajian simbolik membantu membaca lapisan makna yang hadir sepanjang penyelenggaraannya. Rangkaian ini memperlihatkan bagaimana sebuah warisan religius terus beradaptasi, tanpa sepenuhnya melepaskan jejak sejarah yang membentuknya.
Mengenal Upacara Tabuik dan Bentuk Kerandanya
Upacara Tabuik, yang juga disebut batabuik atau pesta tabuik, merupakan tradisi masyarakat Pariaman, Sumatera Barat. Namanya berakar pada istilah Arab at-tabut, yang merujuk pada peti atau keranda sebagai wadah jenazah. Dalam pemahaman Mesir kuno, tabut dikenal sebagai peti batu atau kayu untuk meletakkan jasad orang meninggal. Adapun masyarakat Pariaman memaknai tabuik sebagai keranda berbahan bambu, kayu, atau rotan yang dihiasi bunga salapan.
Delapan Tahap dalam Rangkaian Prosesi
Prosesi mencakup pembuatan daraga, pengambilan tanah, penebangan batang pisang, maatam, arak sorban, naik pangkat, Hoyak Tabuik, serta pelarungan tabuik. Setiap tahap menyumbangkan gerak dan perlengkapan tersendiri, membentuk rangkaian yang menghubungkan persiapan, penghormatan, hingga penutup perayaan. Keranda berhias itu menjadi pusat perhatian, sekaligus lambang yang mengikat kisah Husein dengan ingatan kolektif warga.
Sejarah Tabuik Berakar pada Kisah Karbala
Riwayat penyelenggaraan Tabuik di Pariaman dikaitkan dengan kedatangan bangsa Cipei, kelompok yang disebut sebagai sisa pasukan Inggris atau Gurkha. Menurut catatan tersebut, mereka membawa tradisi perayaan tabuik dari Bengkulu setelah Traktat London ditandatangani Inggris dan Belanda pada 1824. Perayaan itu kemudian berkembang sebagai penghormatan atas wafatnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad. Peristiwa yang dikenang berlangsung di Padang Karbala pada 681 Masehi, ketika Husein gugur dalam peperangan melawan pasukan Yazid bin Muawiyah.
Kisah Karbala dalam Ingatan Kolektif
Riwayat yang menyertai tradisi mengisahkan Husein dipancung, tubuhnya dicincang, lalu kepalanya dipisahkan setelah pertempuran berakhir tragis. Sesudah kematiannya, rombongan malaikat konon turun membawa arak-arakan, mengumpulkan bagian tubuh Husein, lalu menerbangkannya bersama seekor burak menuju langit. Seorang dari bangsa Cipei diceritakan bergantung pada keranda itu, sebelum malaikat memerintahkannya kembali ke bumi.
Upacara Tabuik Menjadi Tradisi Turun-Temurun
Awalnya, orang Cipei itu menolak perintah tersebut, tetapi akhirnya kembali dan diminta membuat arak-arakan serupa di bumi. Sejak kisah itu berkembang, masyarakat Cipei dikisahkan mengarak tabut mengelilingi kampung pada awal setiap bulan. Warisan tersebut kemudian dikenal sebagai Upacara Tabuik di Pariaman, lalu diteruskan lintas generasi hingga menjadi tradisi masyarakat.
Simbol Duka dan Pergeseran Makna
Penelitian mengenai makna simbolik Tabuik menguraikan tiga lapisan pemaknaan yang hadir melalui gerakan, benda, dan perkembangan fungsi tradisi. Gerakan dalam prosesi merepresentasikan kekerasan peperangan antara Husein dan pasukan Muawiyah, sekaligus menyuarakan kekecewaan serta duka mendalam. Perlengkapan dan unsur fisik yang digunakan turut membangun bahasa simbol, sehingga benda-benda ritual menyimpan pesan di luar wujudnya. Di sisi lain, Pemerintah Kota Pariaman menetapkan Tabuik sebagai objek pariwisata, membuka ruang bagi pengunjung lokal maupun mancanegara.
Perubahan tersebut mendorong pergeseran tafsir, dari ritual khusus keagamaan Islam Syiah menuju hiburan dan atraksi seni tahunan. Meski orientasinya berkembang, jejak sejarah Karbala tetap menjadi salah satu fondasi yang menjelaskan kedalaman simbol dalam perayaan. Di tengah keramaian wisata, Upacara Tabuik terus mempertemukan warisan, ingatan kolektif, dan wajah budaya Pariaman yang dinamis.