Karnaval Simbang Kulon di Pekalongan memantik perdebatan setelah kostum horor, peti mati, dan simbol kontroversial menyebar melalui media sosial. Peristiwa itu mengundang pertanyaan lebih luas tentang cara masyarakat membaca simbol budaya, khususnya ketika pertunjukan hadir dalam acara keagamaan. Namun, tampilan visual tidak otomatis membuktikan keyakinan pelakunya, meski konteks acara dan pilihan simbol tetap memengaruhi pemaknaan publik. Karena itu, polemik ini sebaiknya dibaca melalui dua sisi: kebebasan berkesenian dan tanggung jawab mengelola pesan di ruang publik.
SKNC 2026 berlangsung pada 10 September sebagai bagian rangkaian Maulid Nabi dan khitanan massal ke-61 di Simbang Kulon. Potongan penampilannya memperlihatkan kostum menyeramkan, properti peti, simbol yang diasosiasikan dengan satanisme, serta adegan penyembelihan kambing. Panitia dan tim kreatif kemudian meminta maaf serta mengakui kurang memahami referensi visual yang mereka gunakan.
Simbol Budaya Tak Bisa Dibaca dari Bentuk Saja
Di dalam kebudayaan, bentuk visual dapat berfungsi sebagai dekorasi, tokoh dramatik, lambang tradisi, atau penanda keyakinan tertentu. Pembacaan simbol budaya terbentuk melalui sejarah, maksud pembuat, ruang pertunjukan, serta pengalaman khalayak yang menyaksikannya langsung maupun daring. Karena itu, kemiripan kostum dengan ikonografi tertentu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa peserta menjalankan atau menganut ritual terkait. Pada saat bersamaan, niat kreatif tidak otomatis menghapus dampak simbol, terutama ketika penyelenggara memasukkannya ke dalam perayaan bernuansa keagamaan.
Niat Seniman Berbeda dari Tafsir Penonton
Perbedaan antara niat dan penerimaan publik membantu menjelaskan mengapa karya yang diniatkan sebagai horor dapat memantik penolakan. Penonton tidak menafsirkan gambar dalam ruang kosong, melainkan memakai pengetahuan, pengalaman religius, dan rujukan budaya populer yang mereka miliki. Respons itu layak dikaji, bukan langsung dicap sebagai kepanikan, sekaligus tidak harus diterima sebagai bukti adanya praktik pemujaan.
Tradisi Bekakak Menunjukkan Pentingnya Konteks
Tradisi Saparan Bekakak di Ambarketawang, Gamping, Sleman, memperlihatkan mengapa konteks menentukan cara masyarakat memahami prosesi yang tampak keras. Ritual itu menghadirkan sepasang boneka pengantin dari tepung ketan, lalu menyimbolkan penyembelihan dalam rangka penghormatan leluhur dan permohonan keselamatan. Warisan budaya tersebut memiliki riwayat lokal tersendiri dan tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2015. Contoh itu tidak menyamakan semua simbol, tetapi menegaskan bahwa bentuk visual perlu dibaca bersama sejarah dan fungsi.
Simbol Budaya Memerlukan Pembacaan Utuh
Bekakak dapat terlihat mengejutkan bagi orang yang hanya melihat cuplikan, tetapi masyarakat setempat memahami akar sejarah dan tujuan ritualnya. Jathilan, Sintren, wayang, dan Reog juga memakai unsur gaib atau figur fantastis, dengan makna yang mengikuti tradisi masing-masing. Namun, pembanding budaya tersebut tidak otomatis membenarkan pilihan artistik apa pun, sebab setiap acara tetap memiliki aturan kepantasan.
Kreativitas Perlu Disertai Tanggung Jawab
Kreator berhak bereksperimen dengan bentuk gelap, tetapi perlu memahami asal-usul referensi sebelum membawanya ke panggung publik. Panitia juga harus mengkurasi konsep, menilai keselarasan dengan tema acara, serta mengantisipasi dampak yang mungkin timbul pada kelompok penonton. Pengakuan panitia SKNC bahwa mereka kurang memahami referensi menunjukkan celah pengawasan, bukan alasan untuk mengabaikan persoalan tersebut.
Literasi Simbol Membutuhkan Dialog, Bukan Vonis
Media sosial mempercepat penyebaran gambar, sementara cuplikan singkat kerap melepaskan pertunjukan dari urutan dan konteks aslinya. Namun, publik tetap boleh mengkritik pilihan visual yang dianggap tidak pantas, khususnya ketika penyelenggara membawa acara atas nama komunitas keagamaan. Yang perlu dihindari adalah lompatan dari rasa tidak nyaman menuju tuduhan teologis tanpa bukti tentang niat atau praktik pelaku. Diskusi yang sehat menguji maksud, sejarah simbol, kecocokan konteks, dan tanggung jawab penyelenggara sebelum membentuk kesimpulan yang menyudutkan.
Kontroversi Pekalongan seharusnya mendorong masyarakat dan pelaku seni meningkatkan literasi budaya, bukan memperuncing prasangka terhadap simbol asing. Kebebasan berekspresi akan lebih bermakna ketika berjalan bersama riset, kepekaan konteks, dan kesediaan mendengar keberatan publik. Sebab, simbol tidak pernah berbicara sendirian; makna tumbuh dari sejarah, tempat, tujuan, serta cara masyarakat menafsirkannya.