Sekardiu NTB menjadi sorotan ketika Museum Negeri NTB mengangkat hewan mitologi Sasak sebagai ikon budaya selama MotoGP Mandalika 2026. Pameran tematik itu berlangsung pada 8–11 Oktober di kawasan Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, dan menyambut penonton balap internasional. Panitia memilih sosok ini karena kisahnya menyimpan simbol kecepatan, kekuatan, serta perjalanan yang selaras dengan karakter MotoGP. Melalui perpaduan tradisi dan olahraga modern, museum ingin memperkenalkan warisan masyarakat Lombok kepada pengunjung domestik maupun mancanegara.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menilai simbol kecepatan Sekardiu telah melekat pada identitas budaya masyarakat Pulau Lombok. Dalam cerita wayang Sasak, makhluk ini memiliki kepala menyerupai kuda dan singa, tubuh kuda, serta ekor naga. Kisah tradisional menempatkannya sebagai tunggangan Jayangrana, tokoh yang mengandalkan kecepatan luar biasa saat menempuh perjalanan.
Sekardiu NTB Menghubungkan Tradisi dengan Kecepatan MotoGP
Iqbal melihat kesamaan filosofi antara kemampuan Sekardiu bergerak cepat dan kompetisi balap motor yang menuntut kecepatan tinggi. Menurutnya, kehadiran MotoGP di Mandalika terasa sejalan dengan nilai yang hidup dalam budaya masyarakat Lombok sejak lama. Ia menyebut hubungan tersebut memperkuat ciri khas Mandalika, karena penonton dapat menikmati balapan sekaligus mengenal warisan lokal. Perpaduan ini juga memperluas peluang promosi budaya Sasak kepada masyarakat internasional melalui ajang olahraga berjangkauan global.
Filosofi Sekardiu dalam Tradisi Wayang Sasak
Ahmad Nuralam, Kepala Museum NTB, menjelaskan bahwa Sekardiu tidak hanya mencerminkan kecepatan, tetapi juga kepahlawanan dan hubungan manusia dengan tradisi. Melalui wayang Sasak, kisah Jayengrana menjaga simbol tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman dan perkembangan budaya populer. Makna itu menjadi dasar kuratorial pameran bertema Speed, Energy, and Connection yang mengaitkan kendaraan, energi, perjalanan, dan gerak.
Pameran Budaya Mandalika Memperkenalkan Warisan Sasak
Museum NTB memanfaatkan gelaran MotoGP untuk memperkenalkan sejarah dan identitas daerah kepada penonton yang datang dari berbagai negara. Museum mulai menghadirkan ruang pamer khusus di kawasan sirkuit sejak MotoGP 2025 untuk menyambut pengunjung balap. Pada tahun sebelumnya, pameran menyoroti Samalas, nama lama Gunung Rinjani, serta letusan Tambora yang berdampak hingga Eropa dan Alaska. Tahun ini, kurator menggeser perhatian ke simbol etnografi yang mempertemukan semangat kompetisi, kearifan, dan keluhuran tradisi Sasak.
Sekardiu NTB Tampil Bersama 21 Artefak
Pameran menampilkan 21 artefak, termasuk naskah kuno Jayengrana, wayang Sekardiu dan Jayengrana, enam lukisan, serta dua pasang Sekardiu. Koleksi lain mencakup empat cale pemotong pinang berbentuk kuda dan empat kain tenun yang merekam keterampilan lokal. Kurator menyusun koleksi tersebut untuk mempertemukan warisan budaya Sasak dengan perkembangan kendaraan bermotor dan olahraga balap modern.
Pameran Menghubungkan Tradisi dengan Teknologi
Museum membuka ruang pamer setiap hari pukul 09.00–17.00 WITA di South Gallery lantai dua Experience Gallery.
“Pameran ini untuk menghubungkan narasi budaya masa lalu dengan perkembangan kendaraan bermotor dan olahraga balap pada masa kini,” pungkas Nuralam.
Lokasi itu mengajak pengunjung menyandingkan simbol budaya Sasak dengan teknologi kendaraan yang menjadi pusat perhatian balapan.
Sekardiu Menguatkan Identitas Budaya NTB di Panggung Global
Pameran ini menunjukkan bagaimana olahraga internasional dapat membuka ruang bagi tradisi lokal untuk dikenal lebih luas. Bagi NTB, pendekatan tersebut memperkaya pengalaman wisata, karena penonton tidak hanya menyaksikan balapan tetapi juga menelusuri warisan budaya. Gagasan ini juga mempertemukan pariwisata olahraga dan pariwisata budaya dalam satu ruang yang mudah diakses penonton. Keberadaan Sekardiu di Mandalika memberi panggung baru bagi cerita wayang Sasak tanpa melepaskan akar tradisi yang melahirkannya.
Melalui 21 artefak dan narasi yang terarah, Museum NTB menyatukan kearifan leluhur dengan energi modern yang menarik wisatawan. Sekardiu pun tampil bukan sekadar tokoh mitologi, melainkan lambang gerak, keberanian, dan identitas masyarakat Sasak. Kolaborasi budaya dan MotoGP memperlihatkan bahwa Mandalika dapat menyuguhkan lebih dari perlombaan, yakni ruang untuk mengenal warisan NTB.