Pameran Imajinesia di Bentara Budaya Jakarta menghadirkan perjumpaan antara arsip jurnalistik dan seni rupa untuk membaca perjalanan Indonesia. Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Pratikno, menilai proyek tersebut melampaui pajangan visual karena merangkum dinamika sosial lintas zaman. Melalui lukisan, berita lama memperoleh ruang tafsir baru, sementara pengalaman masyarakat hadir kembali dalam bahasa artistik yang menggugah. Pendekatan itu mengajak pengunjung menilik masa silam sekaligus merumuskan imajinasi kolektif tentang arah Indonesia pada masa mendatang.
Dalam kunjungannya pada Rabu, 14 Oktober 2026, Pratikno menyoroti kemampuan lukisan merekam keadaan masyarakat pada periode tertentu. Ia mencontohkan gambaran petani tebu dan nelayan era 1970-an, yang memperlihatkan denyut ekonomi serta keseharian kelompok masyarakat. Bagi Pratikno, jejak visual tersebut menjadi bahan refleksi karena masa depan tumbuh dari keberanian memahami sejarah sendiri.
Pameran Imajinesia Menautkan Arsip dan Seni
Para seniman menelusuri arsip berita, lalu memilih persoalan sosial, budaya, ekonomi, atau politik untuk dikembangkan menjadi karya kontemporer. Proses itu menjaga keterhubungan karya dengan kejadian nyata, sekaligus membuka kemungkinan pembacaan yang lebih emosional dan simbolis. Alih-alih sekadar menyalin isi berita, seniman menyaring gagasan penting dan menafsirkan ulang maknanya melalui bahasa rupa masing-masing. Dengan cara tersebut, arsip media berkembang menjadi ruang dialog antara fakta terdokumentasi, pengalaman personal, dan kesadaran kebangsaan.
“Jadi sebuah artikel, sebuah reportase jurnalistik yang berkualitas tetapi kemudian dituangkan dalam sebuah karya lukisan,” tutur Pratikno.
Seni Membuka Jendela Pemahaman Sosial
Ia juga mengapresiasi cara pameran menerjemahkan kondisi sosial masa lalu tanpa menutup ruang bagi tafsir pengunjung yang berbeda. Setiap orang dapat menemukan pengalaman, ingatan keluarga, atau pertanyaan mengenai perubahan kehidupan dalam detail karya yang dipamerkan. Kebebasan membaca itu memperkaya percakapan publik, lantaran seni tidak memaksakan satu kesimpulan atas sejarah yang kompleks.
Menjangka Masa Depan dari Rekaman Masa Lalu
Imajinesia mengusung optimisme dengan menghubungkan catatan masa lalu, kenyataan hari ini, dan bayangan Indonesia yang lebih baik. Dalam pandangan itu, seni bukan hanya wadah kritik, melainkan juga latihan membayangkan solusi bagi persoalan yang terus berlangsung. Pratikno berharap masyarakat tetap menjaga daya imajinasi dan mengupayakannya menjadi kenyataan, demi kehidupan nasional yang semakin adil. Pesan tersebut menempatkan warga bukan sekadar penikmat seni, tetapi pula pelaku yang berhak menentukan arah masa depan bersama.
Pameran Imajinesia Membuka Ruang Imajinasi
Pameran Imajinesia mempertemukan beragam perspektif, memungkinkan publik menghubungkan gambaran sejarah dengan harapan pribadi tentang Indonesia mendatang. Tafsir itu dapat berbeda antarpengunjung, sebab pengalaman hidup membentuk cara seseorang memahami simbol, pilihan warna, dan tema. Perbedaan tersebut justru menegaskan peran seni sebagai ruang perjumpaan, tempat percakapan tumbuh tanpa harus menyeragamkan pandangan.
Delapan Seniman Mengolah Jejak Jurnalistik
Delapan seniman menyertakan Agus Suwage, Aprililia, Budi Ubrux, Mahdi Abdullah, Ruth Marbun, Suharmanto, Tumariyanto, serta William Robert. Mereka mengolah arsip pilihan melalui karakter visual masing-masing, menghasilkan tafsir artistik yang tidak seragam tetapi bertumpu pada realitas. Pameran itu pun memperlihatkan bahwa karya seni mampu menjahit dokumentasi, memori masyarakat, dan cita-cita kebangsaan dalam satu ruang.
Arsip Kompas Menjadi Titik Berangkat
Pembukaan berlangsung pada 23 September, lalu pameran dibuka untuk publik pada 24 September hingga 15 Oktober 2026. Koreksi jadwal ini penting agar catatan acara membedakan seremoni pembukaan dari periode pameran yang dapat dikunjungi masyarakat. Melalui perpaduan dokumentasi dan ekspresi, proyek tersebut meninggalkan pertanyaan: bagaimana ingatan kolektif dapat membantu bangsa merancang masa depan? Pertanyaan itu membuat pameran bukan hanya peristiwa seni sementara, tetapi juga undangan untuk terus merajut kehidupan bersama.
Meski pameran telah berakhir, arsip yang diolah para seniman tetap menghidupkan percakapan tentang perubahan sosial dan masa depan Indonesia. Warisan terpentingnya mungkin terletak pada keberanian menafsirkan ulang sejarah, bukan sekadar menyimpannya sebagai catatan yang membeku. Dari sana, imajinasi dapat menjelma kerja bersama untuk merawat Indonesia yang lebih peka, terbuka, dan bermartabat.